Langsung ke konten utama

New Post

Spirit Fanny Ngeblogging

Dear Readers, Menambah pandangan dari kaca pengalaman orang lain, juga bisa menambah sudut pandang kita, lho. Setuju ya? Spirit Fanny Ngeblogging menjadi suntikan energi untukku juga dalam ngeblogging. Itu lah maksud dari task 4B Blogspedia Coaching #5. Berbinar hati ini bisa mengenal lebih dekat dengan Rahilla Fanny, partner bermainku di sesi 4B. Selama coaching ini, sebatas melihat 'text' dan 'sedikit suaranya'. Maka, kesempatan ini ku gunakan untuk menggali tentangnya lebih dalam.  Alasan Fanny Ngeblogging 1. Passionate di bidang literasi Perempuan asal Aceh ini suka menulis dan segala hal yang terkait literasi . So do I am! Fanny-begitu sapaanya-memilih blog sebagai ruang untuk latihan menulis. Karena blog itu mudah, juga murah. Harapannya kemampuan menulisnya akan meningkat bila sering dilatih di halaman blog. Menyambung juga dengan passionnya yang ingin berkarir di bidang literasi/kepenulisan. Sebelumnya juga pernah mengerjakan beberapa job terkait kepenulisan. Ma

Peringatan Hari Bahasa 2023: Momen Menebalkan Rasa Bangga akan Bahasa Indonesia

Peringatan Hari Bahasa 2023

Peringatan Hari Bahasa 2023


Tahukah Anda, pada Oktober ini diperingati sebagai Bulan Bahasa dan Sastra 2023? Bila tidak tahu, kemungkinan Anda adalah orang awam. Atau pernah tahu, kemudian lupa. Kemungkinan hanya diketahui oleh para penggiat literasi atau aparatur negara yang mengemban amanah untuk ikut merayakan peringatan hari bersejarah atau hari besar nasional. Idealnya peringatan ini bukan hanya diketahui oleh sebagian kelompok kecil atau ASN saja, namun seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, karena bahasa adalah salah satu unsur negara yang dikukuhkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945. Salah satu unsur bangsa, yang mana para pemuda Indonesia, dahulu pernah bersumpah (Sumpah Pemuda tahun 1928) untuk menjunjung tinggi bahasanya, yakni bahasa persatuan, bahasa Indonesia. 

Forum Lingkar Pena adalah salah satu organisasi/komunitas penggiat literasi yang berupaya terus memperingati, merayakan dan menyemarakkan bulan bahasa 2023 dengan beragam kegiatan. Agar spirit literasi dan rasa bangga akan bahasa Indonesia meluas dan merasuk ke sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia. Supaya keagungan bahasa Indonesia senantiasa dijunjung oleh rakyatnya.

Pada era digital saat ini, keleluasaan arus informasi dan komunikasi bak pisau bermata dua. Disatu sisi memudahkan penebaran spirit literasi. Disisi lain tantangan bahasa semakin kompleks. Apa saja tantangannya?

Fenomena Bahasa Campuran

Pernahkah Anda menonton video di YouTube? Pernah dan kerap atau pernah saja? Sepertinya pilihan pertama menggambarkan fenomena yang faktual di era digital sekarang. Sebuah aplikasi yang jamak dikunjungi dan ditonton masyarakat saat ini. Sudahkah Anda memperhatikan bahasa yang digunakan dalam perbincangan, percakapan atau obrolan dalam konten-konten video YouTube tersebut? Ya, kerap kita tangkap, bahasa yang digunakan oleh YouTuber (pembuat konten video di YouTube) saat monolog atau berdialog dengan lawan bicaranya menggunakan bahasa Indonesia yang dicampur atau diselingi bahasa asing, yang kebanyakan bahasa Inggris. Pun saat kita membaca beberapa portal berita online, tak jarang artikel-artikel menyelipkan kata-kata dan istilah bahasa asing di dalamnya. Terutama artikel-artikel portal berita populer.

Bisa dikatakan bermula dari kata sapaan untuk para penonton YouTube. Apa itu? Iya benar, guys! Selanjutnya merebak ke kata sambung: that's why, basically, well, while, which is ataupun istilah-istilah populer seperti: healing, literate, well educated, habit, mindset dan lain sebagainya.

Dalam sosiolinguistik (ilmu bahasa dari segi sosial) fenomena mencampuradukan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam satu kalimat bahkan satu kata ini disebut dengan alih kode atau code switching.

Di dunia nyata, fenomena ‘bahasa campuran’ ini juga digunakan oleh para pemuda atau anak-anak gaul Jakarta Selatan dalam kehidupan sehari-hari dan pergaulannya. Walaupun bahasa gaul ini tidak hanya dipakai oleh anak Jakarta Selatan saja. Sebaliknya, tidak semua anak Jakarta Selatan juga memakai bahasa gaul ini. Namun ‘bahasa campuran’ ini populer sebagai ‘bahasa anak Jaksel’. Pengaruhnya pun sporadis, ke seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya, hingga ke kota-kota besar lain di Indonesia. Akibat arus media sosial yang mengalir hingga ke pelosok negeri, bahasa ini sampai dan dikenal juga oleh masyarakat luas.


Bahasa Kaitannya dengan Status Sosial 

Menurut Dr. Ni Wayan Sartini, dosen program studi bahasa dan sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (dalam www.edukasi.kompas.com, 2022): "penggunaan bahasa Inggris dalam kalimat percakapan sehari-hari rakyat Jaksel adalah suatu prestise. menunjukkan tingkat sosial tinggi berpendidikan tinggi dan berbudaya kekinian".

Kenyataan bahwa penguasaan bahasa-bahasa asing tertentu seringkali dianggap sebagai lambang status sosial di dalam masyarakat, juga dikemukakan oleh tokoh bahasa Amran Halim.

Sejak tahun 1981, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia sebenarnya mengamati bahwa kesetiaan menggunakan bahasa nasional menurun, tidak sedikit orang Indonesia menggunakan bahasa nasional seenaknya, dan tidak sedikit pula orang Indonesia yang merasa bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasa nasional.

Wah fakta diatas sangat mencengangkan, ya?! Lebih dari 40 tahun fenomena tersebut menjadi tantangan eksistensi bahasa Indonesia. Apakah sekarang derajat kebanggaan berbahasa Indonesia makin terpuruk di dasar?

Pengaruh Digitalisasi pada Bahasa 

Fenomena bahasa campuran ini diperparah dengan masuknya beragam perangkat digital beserta nama/istilah yang menyertainya yakni bahasa asing (bahasa Inggris). Akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengaruh digitalisasi menambah derasnya pengaruh bahasa asing dalam berbahasa. Tak heran banyak orang yang mendadak mengenal istilah-istilah asing seputar teknologi meskipun (kemungkinan) mereka belum menguasai bahasa Inggris. Istilah populer dibidang teknologi tersebut antara lain: gadget, wifi, online, e-commerce, e-sport, connection, selfie, download, upload, website, link, netizen, password, hot spot dan lain-lain.


Definisi Bahasa

Ariani (2016) dalam buku Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia (Dibia, 2018) mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer (manasuka) yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri. Ciri atau sifat bahasa yaitu bahasa itu adalah sebuah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu berupa bunyi, bahasa itu bermakna, bahasa itu bersifat arbitrer, bahasa itu bersifat konvensional, bahasa itu bersifat unik, bahasa itu bersifat universal, bahasa itu bersifat produktif, bahasa itu bervariasi, bahasa itu bersifat dinamis dan bahasa itu manusiawi.

Definisi bahasa yang beragam tersebut seolah mengizinkan bahasa campuran tersebut sah-sah saja diterapkan dalam suatu kelompok masyarakat. Senada dengan pernyataan Dr. Ni Wayan, bahwa tidak akan menjadi masalah selama penggunaannya berada dalam situasi yang tepat. Selama ini bahasa tersebut hanya digunakan sebagai bahasa pergaulan, jadi sah-sah saja, boleh boleh saja. Bagi beliau bahasa layaknya sebuah pakaian. Masyarakat tidak dapat menyamakan penggunaannya pada situasi yang berbeda. Bahasa yang baik adalah ketika bahasa tersebut menyesuaikan situasinya


Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa yang diresmikan penggunaannya setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Dikukuhkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 pasal 36 yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.

Melihat kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai berikut:
  • Lambang jati diri
  • Lambang kebangsaan bangsa
  • Alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang etnis sosial budaya dan bahasa daerah yang berbeda
  • Alat penghubung antar budaya dan antar daerah

Berdasar fungsi diatas, seyogyanya bahasa Indonesia dipakai sebagaimana mestinya secara benar dan sadar, sebagai rasa kebangsaan. Apalagi menilik sejarahnya, bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau yang memiliki standar tinggi (Dibia, 2018). 

Baca juga:


Bahasa yang Kaya

Bahasa Indonesia itu Kaya


Halim (1989) juga menambahkan, kongres bahasa Indonesia di Medan pada tahun 1954 mengakui bahwa bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang dari bahasa Melayu dan di dalam pertumbuhan dan perkembangannya itu bahasa Indonesia telah diperkaya oleh bahasa-bahasa lain terutama bahasa daerah di Indonesia. Di dalam pertumbuhannya dari bahasa Melayu sebagai lingua franca menjadi bahasa nasional dan bahasa negara kita. perkembangan bahasa Indonesia seperti yang kita miliki sekarang telah dimungkinkan oleh adanya tingkat toleransi kebahasaan yang tinggi dan sebagai akibat telah menyerap berbagai unsur bahasa Jawa dan dari bahasa bahasa asing tertentu terutama bahasa Belanda dan bahasa Inggris

Bahasa Indonesia sejatinya sudah ‘kaya serapan’, apakah akan nampak lebih ‘kaya’ bila dicampuradukan dengan bahasa Inggris ala bahasa anak Jaksel? Nampak, penggunanya-lah yang ingin ‘terlihat kaya’. Namun bukankah berlebihan itu tidak baik, ya?! Lebay kata mereka:)

Mengulang kembali definisi, bahwa bahasa itu bermakna, menurut Ariani (2016). Nyatanya banyak sekali kosakata bahasa Indonesia itu yang kaya makna. Pada satu kata bisa mempunyai kata padanan yang cukup banyak dan beragam, contohnya:

Kata: Melihat
Padanan katanya: memandang, menatap, melirik, menilik, memeriksa, mengecek, menonton, mengelih.

Kata : rumah
Padanan katanya: griya, wisma, graha, pondok, gedung, balai, dewan, panti, bangunan.

Banyak contoh kata lain yang bisa kita temukan padanan katanya. Bila kita membaca surat kabar, menyimak prosa, menikmati puisi dan karya sastra lainnya.

Apakah fakta ini belum mampu mengangkat prestise bahasa Indonesia? Tentu, rasa bangga dan apresiasi akan bahasa Indonesia oleh rakyatnya lah yang mampu mengangkatnya. Agar apresiasi itu hadir, masyarakat perlu mengenali, mengakrabi, memahami, menghayati, menikmati dan menerapkan bahasa Indonesia itu sendiri  (Dibia, 2018). Bukan sebatas sekelompok penggiat literasi, seni dan budaya.

Cara Menebalkan Rasa Bangga akan Bahasa Indonesia

Cara mudah menebalkan rasa bangga akan bahasa Indonesia, memulainya dengan perubahan penggunaan bahasa keseharian kita. Era digital yang tak lepas dari penggunaan perangkat digital dalam keseharian, mengotomatisasi kita kerap bercakap istilah yang menyertainya. Maka, bisa kita awali dari titik ini, misal dengan:

mengganti kata selfie dengan swafoto
mengganti kata edit dengan sunting
mengganti kata download dengan unduh
mengganti kata upload dengan unggah
mengganti kata online dengan daring
mengganti kata offline dengan luring
mengganti kata e-commarce dengan e-dagang

Coba sebutkan istilah lain dari bahasa asing yang bisa kita ubah dan sebutkan dengan bahasa Indonesia? Ya, banyak sekali!

Tak diragukan, istilah-istilah bahasa Indonesia tersebut di atas lebih memiliki rasa, bermakna dan berbudaya Indonesia, hanya saja kita belum membiasakan dalam bahasa keseharian, dalam berkomunikasi lisan dan tulisan.

Cara lain untuk mengapresiasi dan merasa bangga akan bahasa dan sastra Indonesia, yakni:
  • Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan memperhalus budi pekerti serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
  • Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai Khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Dibia, 2018).

Bahasa adalah Budaya

Bahasa adalah Budaya


Jikalau kita konsisten menggunakan bahasa Indonesia secara sadar, benar dan bangga maka istilah-istilah tersebut tak akan terlupa dari bendahara kata dalam ingatan. Lantas kita bisa menularkannya kepada lawan bicara di lingkup keluarga, lingkungan, menular lagi ke pergaulan sekitar. Pada akhirnya menular hingga ke seluruh lapisan masyarakat. Getok tular istilahnya. 

Bahasa adalah suatu budaya, dimana budaya itu tercipta karena adanya kebiasaan yang terbangun dalam suatu lingkungan. Muskil membendung pengaruh budaya asing atau bahasa asing masuk. Yang paling mungkin kita lakukan adalah menciptakan lingkungan yang sesuai dengan harapan, dalam hal ini adalah lingkungan yang terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara penuh, sadar, benar dan bangga. Jikalau kita terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara penuh, sadar, benar dan bangga maka istilah-istilah bahasa asing hanya sebagai pengantar masuknya pengaruh. Kuasa kita adalah segera menggantinya dengan padanan kata bahasa Indonesia, membiasakan menggunakannya dalam bahasa keseharian.

Ketika memulai bercakap dengan bahasa Indonesia secara penuh, beberapa orang mungkin ada yang merasa kesulitan, karena saluran-saluran yang harus dilalui oleh sensasi belum mapan, tapi setelah perulangan yang sering, berhasil membuat jalan pintas, kesulitan-kesulitan itu menghilang. Aksi menjadi begitu otomatis sehingga dapat dilakukan tanpa melibatkan pikiran sadar lagi, atau yang dikenal dengan istilah otomatis (Clear, 2018)

Menyiapkan otomatisasi bahasa Indonesia secara penuh dan bangga dalam keseharian rakyat Indonesia, tentu membutuhkan dukungan semua pihak, agar perulangan berbahasa Indonesia ini bisa terus diterapkan kehidupan bermasyarakat. Menciptakan atmosfer berbahasa yang baik dan benar juga perlu udara yang kondusif, angin berbahasa Indonesia yang murnilah yang berhembus. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan rumah. Kelompok penggiat literasi seperti Forum Lingkar Pena (FLP), sekolah, lingkungan kerja, pers, media sosial, pemerintah juga turut andil menghembuskan udara bahasa yang segar dan benar. 





Sumber Pustaka:

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Balai Pustaka.

Dibia, I Ketut. 2018. Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Depok: Rajawali Pers.

Clear, James. 2018. Atomic Habit. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

https://www.ef.co.id/englishfirst/adults/blog/gaya-hidup/apa-itu-bahasa-anak-jaksel/. 2022

Prastiwi, Mahar. 2022. https://edukasi.kompas.com/read/2022/04/04/122638271/munculnya-bahasa-gaul-ala-anak-jaksel-begini-pendapat-dosen-unair?page=all



Komentar

Postingan Populer