Langsung ke konten utama

New Post

The Magic of Thinking Big

The Magic of Thinking Big Seusai membaca buku  The Magic of Thinking Big , serasa benak ini membengkak melebar, pikiran ini melar membesar. Sebelumnya tak begitu terbayangkan betapa kekuatan pikiran sangat dahsyat pada pribadi dan kehidupan seseorang. Disamping kekuasaan tangan Tuhan, ternyata kekuatan pikiran juga mampu mengelola kehidupan. Maka, sangat perlu belajar menata ulang benak dan pikiran, agar benar dan bisa membesar. Sebab, berpikir sukses berawal dari berpikir besar. Kesuksesan tidak ditentukan oleh besarnya otak manusia! Kesuksesan justru ditentukan oleh besarnya cara berpikir manusia itu sendiri. Begitulah, Schwartz meyakinkan pembacanya.  Sosok kita bisa bertumbuh menjadi besar dengan berpikir besar. Jangan meremehkan diri Anda. Hapuskan sikap mencela diri, konsentrasi pada aset Anda. Anda lebih baik dari yang dikira. Gunakan kosa kata pemikir besar. Gunakan perkataan yang menggembirakan, cerah dan besar. Ungkapkan kata-kata yang menjanjikan kemenangan, harapan, kebaha

Membeli Demi Memberi

Membeli Demi Memberi
Konsep Membeli Demi Memberi

Konsep membeli demi memberi ini tercetus saat membaca spanduk sebuah petshop di pusat kota Tulungagung. Rasanya makjleb dihati. Inti caption pada spanduk tersebut adalah membeli produk di petshop tersebut sama dengan memberi makan kucing-kucing liar, karena laba penjualan akan didonasikan untuk tujuan tersebut. Meski konsep ini sudah tak asing bagi diri, tapi memublikasikannya menjadi poin yang menarik dan menginsipirasi diri untuk mengulik dan menulis. 

Membeli merupakan transaksi menukar alat pembayaran (uang) dengan produk/jasa sesuai kesepakatan. Transaksi ekonomi ini bisa bernyawa spiritual bila kita bertransaksi dengan pilihan bijak. Jadi, ingin kan membeli sekaligus memberi?

Selama ini, apa saja yang menjadi pertimbangan Anda saat akan membeli produk atau jasa? Hmm...Pertimbangan utama idealnya: karena butuh atau ingin saja? Selanjutnya, beberapa poin akan menjadi pertimbangan masing-masing personal, berbeda-beda tentunya. Bagi saya, terkadang perlu untuk tidak menuruti prinsip ekonomi, yakni pengorbanan kecil tapi mendapat manfaat yang sebesar-besarnya. Meski transaksi jual beli itu adalah kegiatan ekonomi. Penting juga kita menuruti saja prinsip islam, tidak melulu ekonomi. 

Berdasar prinsip ekonomi, memilih produk termurah dengan manfaat yang besar adalah pilihan terbaik. Bagi saya pilihan bijak itu yang terbaik. Kebijakan ini berdasar pertimbangan (yang bagi saya) mendasar dan ber-value. Mengapa akan membeli saja harus mempertimbangkan beberapa poin A,B,C, D....? Terdengar ribet kah? Karena membeli bisa bernilai lebih, bermuatan pahala bila kita memutuskan secara bijak. Membeli demi memberi!

Baca juga:

Anak-anak Totto chan 

Atomic Habit 

Pertimbangan saya (mungkin) bisa menjadi pertimbangan Anda. Tidak pun, tidak apa-apa. Pertimbangan sebelum memutuskan akan membeli dimana, diantaranya adalah:

1. Lebih memilih berbelanja di pasar tradisional daripada modern

Bukan rahasia lagi, pasar tradisional di Indonesia itu umumnya kotor, jorok, panas, dan semrawut. Jauh dari rasa nyaman dan aman. Bagiku, datang ke pasar tradisional mencegahku membumbung, dan terus membumi, dsini trully 'wajah Indonesia'. Sebagian besar disana adalah pedagang kecil dengan bedak (meja dagang) atau dibawah, beralas karung goni. Dari yang jumlah daganganya lengkap dan banyak hingga dagangan yang hanya beberapa sayur saja. Berkumpul juga pedagang kecil dari anak-anak hingga orang tua. Dari bapak-bapak hingga ibu-ibu, bahkan bawa bayi. Jarang sekali dijumpai pedagang yang bersih, rapi dan good looking. Betapa perjuangan mereka mencari uang harus mau 'bermain' setiap hari di tempat kotor seperti itu. Ada yang dalam keadaan hamil dan membesarkan anak kecilnya disana. Sungguh menyayat!

2. Pilihlah toko yang sepi

Bila menjumpai toko yang sepi, coba diamati dan dikunjungi. Rasa penasaran mencuat, apakah gerangan toko tersebut lebih sepi dari yang lain. Bila pelayananan baik, kenapa tidak menjadi salah satu pelanggan barunya. Bisa jadi bergabungnya kita menjadi pembuka rejeki toko/pedagang tersebut. Pernah dijumpai satu toko/pedagang menjadi lebih rame karena ada 1 atau 2 orang yang datang bertransaksi dan atau berkunjung meramaikannya. Tentu jamak kita jumpai ada satu toko yang lebih rame dibanding toko-toko lain. Rupanya harga di toko tersebut lebih murah dibanding yang lain. Tapi bedanya cuma 500 atau 1000 rupiah saja, guys! Hmm...kenapa tidak memberi rejeki pada toko lain yang lebih sepi. 

3. Pilihlah pedagang/penjual yang lebih tua/renta/disabilitas/ibu hamil/ibu bawa balita/terlihat kurang berdaya

Poin pertimbangan ini tentu menjadi poin utama. Bahkan menggeser pertimbangan apakah produk tersebut dibutuhkan atau tidak. Normally, rasa iba akan mendominasi logika. Pastinya, harganya jauh dari kata mahal. Mereka menjual hanya untuk makan, menyambung hidup. Tak perlu lah kita menimbang-nimbang, butuh atau tidak, beli atau tidak! Pastinya uang yang kita keluarkan tidak seberapa dengan kebutuhan mereka, dengan kerja keras mereka. Yang perlu diapresiasi dan didukung adalah semangat mereka untuk mampu mandiri, mencegah diri mereka dari perbuatan meminta-minta. Jangan minta uang kembalian, kalau memungkinkan beri uang lebih, ya! Agar mereka bisa pulang lebih awal dengan bawa laba. Biar mereka bisa istirahat atau banyak waktu di rumah untuk mengasuh anak-anaknya. 

4. Pilihlah pedagang dengan pilihan produk yang lebih thoyyib dan sehat

Beragam produk yang ditawarkan, kita punya hak memilih yang baik bagi diri. Tak melulu yang terbaik adalah yang baik bagi diri. Kembali ke value diri, yang selaras dengan nilai diri, hati kita akan dicondongkan. Misal ada pilihan produk minuman dengan tambahan gula putih, Kompetitornya dengan gula merah. Maka pilihan dengan gula merah adalah pilihan yang bijak. 

5. Pilihlah yang bermuatan social campaign

Spanduk Membeli untuk Memberi

Contohnya seperti di awal cerita tulisan ini. Bahkan suatu petshop saja bisa bermuatan social . Aneka ragam produk lokal dan kebutuhan manusia sangat bisa bermuatan social campaign dan atau ramah lingkungan. Seperti membeli T-shirt sama dengan berdonasi kelestarian penyu laut. Atau memilih membeli di toko pesantren, karena laba untuk pengajaran dan kepentingan anak belajar di pesantren. 

6. Pilihlah toko yang baru buka

Dukungan untuk pendatang baru atau pedagang baru sangat dibutuhkan. Mengawali suatu usaha itu tidak mudah, butuh keberanian dan perhitungan. Mari kita hargai dan dukung, agar usahanya lancar, kontinyu dan berkembang sehingga menyerap tenaga kerja. Memberi sumbangsih bagi negeri.

Mari membeli demi memberi, bertransaksi sekaligus berdonasi! Yakin, tidak hanya memberi kepuasan tapi juga kedamaian batin. 



 

Komentar

Postingan Populer