New Post

Menumbuhkan Otonomi dan Motivasi Internal pada Anak

Menumbuhkan Otonomi dan Motivasi Internal Anak

Rangkuman seminar parenting bertajuk "Tak Ada Orang Tua yang Sempurna" dengan narasumber Ibu Najeela Shihab dan Sekolah Murid Merdeka (SMM).

Surabaya, 03 November 2025 diselenggarakan oleh SMM Gubeng-Surabaya.


Persepsi Orang Tua tentang Tanggung Jawabnya

Menumbuhkan otonomi dan motivasi internal pada anak sejatinya menjadi fokus utama orang tua dalam mengasuh dan mendidik buah hatinya. Sekalipun kita merasa belum menjadi orang tua yang sempurna. Faktanya, memang tak ada orang tua yang sempurna. Lantas, sebaiknya bagaimana menjadi orang tua yang ideal?

Mari kita refleksi, figur disiplin seperti apa yang selama ini saya lakukan? Penghukum, pembuat rasa bersalah, teman baik, pemantau atau penumbuh? Tentu ada alasan, persepsi atau pengalaman yang membentuk kita menjadi figur tersebut. 

Tipe Orang Tua Permisif

Mungkin sebagian orang tua ingin menjadi teman baik sang buah hati. Ternyata, kita tak kan bisa menjadi teman baik anak karena ada kesenjangan yang begitu lebar diantaranya. Juga, kita tetap harus menjadi fasilitator bagi mereka, dan yang terpenting orang tua jadi pemegang dan penegak sistem yang otoritatif. Sesungguhnya yang anak butuhkan adalah orang tua yang penumbuh, bukan orang tua yang asyik as friend! Karena orang tua yang berpersepsi sebagai teman baik, biasanya permisif, sering muncul rasa 'nggak enakan' yang gagal dikelola. Akibatnya anak merasa ketergantungan dan ketidakkonsistenan orang tua. Tipe orang tua permisif ini sering kali punya pikiran untuk menghindari menjadi bentuk orang tua yang mengekang, seperti orang tuanya dulu. Implikasinya, orang tua ini akan menghindari konflik dan mendorong anak untuk tidak mengulangi suatu perbuatan demi mereka. Orang tua ini tidak menetapkan batasan yang jelas dan konsisten, akibatnya anak menjadi lemah, tergantung, dan cenderung menunggu atau kurang inisiatif.


Tipe Orang Tua Otoritatif

Idealnya kita berusaha menjadi orang tua yang penumbuh atau otoritatif bagi anak. Orang tua yang tidak otoriter, tidak juga permisif. Apa saja persepsi orang tua penumbuh tentang tanggung jawabnya? Penting untuk memahami persepsi orang tua sebagai penumbuh, agar kita berpikir, merespon dan berlaku sebagai figur ideal tersebut. Pertama, orang tua penumbuh mampu meregulasi rasa marah, rasa bersalah, nggak enakan, khawatir, ingin dipuji dan rasa-rasa lain yang cenderung negatif. Orang tua tipe ini akan mencari tahu dan berdiskusi untuk mengetahui kebutuhan anaknya untuk tumbuh dan belajar. Mereka juga aktif bertanya pada anak, membuat kesepakatan dan batasan bersama anak. Tidak sekadar berasumsi atau bahkan menghakimi dan mengancam anak. Berimbas pada penguatan dan penyadaran dalam diri anak, anak juga akan berpikir apa yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki diri. Dampak jangka panjangnya anak akan punya disiplin diri yang baik dalam diri dan menjadi pelajar yang merdeka. 

Tipe Orang Tua Otoritatif


Menumbuhkan disiplin berkomitmen dan mandiri

Disiplin adalah salah satu karakter baik yang harus dipunyai anak. Karakter ini bukanlah bawaan lahir, melainkan ditumbuhkan dan dilatihkan pada anak. Menumbuhkan disiplin berkomitmen dan mandiri bisa dikerjakan dengan 5M:

  1. Memanusiakan hubungan
  2. Memahami konsep
  3. Membangun keberlanjutan
  4. Memilih tantangan
  5. Memberdayakan konteks


Memanusiakan hubungan

Memandang anak sebagai manusia seutuhnya, nantinya dia akan menjadi manusia dewasa seperti halnya orang tua. Maka kita memperlakukan relasi antara orang tua-anak dengan empati, rasa hormat, dan kesadaran bahwa setiap orang punya perasaan, kebutuhan, dan keterbatasan.


Memahami konsep

Melatih anak untuk tidak hanya tahu definisi suatu hal, tetapi mengerti inti gagasan, logika di baliknya, serta mampu menjelaskan dan menerapkannya dalam berbagai situasi. Jadi anak bukan sekadar mahir menghafal, tetapi benar-benar paham makna dan hubungan antar unsur di dalamnya.

Membangun keberlanjutan

Melatih anak untuk mampu menciptakan sistem, kebiasaan, atau strategi yang dapat bertahan dalam jangka panjang tanpa merusak sumber daya, hubungan, atau fondasi yang menopangnya.

Memilih tantangan

Anak mengenal dirinya dengan baik, segala potensinya untuk bertumbuh optimal dan berkontribusi, juga tahu keterbatasannya, hingga dia paham bagaimana menyiasatinya.

Anak berani memilih tantangan, ia secara sadar mengambil jalan yang tidak selalu mudah, tetapi diyakini dapat membawa pertumbuhan, pembelajaran, dan peningkatan kualitas diri.

Memilih tantangan bukan berarti mencari kesulitan tanpa arah. Ini berarti: anak berani keluar dari zona nyaman, siap belajar hal baru, tidak menghindari tanggung jawab besar, melihat kesulitan sebagai peluang bertumbuh.

Memberdayakan konteks

Memberdayakan konteks berarti memahami dan memanfaatkan situasi, lingkungan, budaya, serta kondisi yang ada sebagai kekuatan, bukan sebagai hambatan. Anak perlu terbiasa untuk tidak hanya fokus pada individu atau ide semata, tetapi juga mengoptimalkan faktor sekitar agar tujuan bisa tercapai lebih efektif. Anak peka dan mampu menjadikan situasi dan kondisi sebagai aset strategis, bukan sekadar latar belakang.

Menumbuhkan disiplin berkomitmen dan mandiri


Menumbuhkan Otonomi dan Motivasi Internal


Anak lahir dengan motivasi internal yang perlu dijaga sepanjang hayatnya. Pola pengasuhan dan pendidikan yang menggunakan ancaman, hukuman, sogokan akan membuat motivasi internal hilang. Keadaan akan memburuk jika dalam keluarga tidak ada regulasi, rutinitas satu arah tanpa ada batasan dan pilihan yang jelas. Dampaknya anak bisa kehilangan minat dan bakat. Tidak punya asprirasi dan identitas diri. Tidak punya motivasi untuk menyelesaikan tantangan yang hadir. 

Idealnya kita berusaha menjadi orang tua yang menumbuhkan otonomi dan motivasi internal. Perilaku orang tua yang menumbuhkan otonomi dan motivasi internal itu antara lain:

Otonomi Agak Internal


Orang tua menghubungkan pembelajaran dengan nilai yang dianut keluarga. Pola kelekatan aman sejak dini dan meneladani regulasi emosi. Dampaknya anak menyadari dan memiliki keyakinan serta 'rasa bersalah' yang menjadi alarm diri akan nilai-nilai yang dianut keluarganya.

Otonomi  Internal Berprestasi

Orang tua menghubungkan pembelajaran dengan nilai yang dianut keluarga. Pola kelekatan aman sejak dini dan meneladani regulasi emosi. Ditambah perilaku yang mempraktekkan pondasi hubungan yang aman, seperti: empati, validasi emosi dan mengelola waktu dengan baik. Orang tua mendorong untuk menetapkan tujuan belajar secara mandiri sesuai nilai dan komitmen, meneladankan refleksi bersama serta terus memberi kesempatan anak mengeksplorasi dan mendalami minat, bakat, aspirasi. Dampaknya anak ajab memiliki identitas diri yang kuat, baik dan positif. Memiliki dan memahami tanggung jawab. Terciptanya regulasi yang selaras dan fokus pada harmoni.

Otonomi  Internal Berkontribusi

Orang tua menjaga motivasi internal anak yang dimiliki sejak lahir sebagai karunia Tuhan dengan mempraktikkan hubungan reflektif dan disiplin positif sepanjang hayat. Tidak ada kontrol dengan motivasi eksternal seperti ancaman, hukuman atau sogokan. Dampaknya perkembangan mencapai kematangan. Baginya belajar adalah pengalaman yang menyenangkan dan bermakna

Dear readers,
Mari refleksi, figur displin seperti apa yang selama ini kita lakukan? Apa komitmen kita dalam menumbuhkan disiplin berkomitmen dan mandiri? Apa yang telah kita praktikkan untuk menumbuhkan kompetensi masa depan anak?

 

Komentar

Postingan Populer