Langsung ke konten utama

New Post

The Magic of Thinking Big

The Magic of Thinking Big Seusai membaca buku  The Magic of Thinking Big , serasa benak ini membengkak melebar, pikiran ini melar membesar. Sebelumnya tak begitu terbayangkan betapa kekuatan pikiran sangat dahsyat pada pribadi dan kehidupan seseorang. Disamping kekuasaan tangan Tuhan, ternyata kekuatan pikiran juga mampu mengelola kehidupan. Maka, sangat perlu belajar menata ulang benak dan pikiran, agar benar dan bisa membesar. Sebab, berpikir sukses berawal dari berpikir besar. Kesuksesan tidak ditentukan oleh besarnya otak manusia! Kesuksesan justru ditentukan oleh besarnya cara berpikir manusia itu sendiri. Begitulah, Schwartz meyakinkan pembacanya.  Sosok kita bisa bertumbuh menjadi besar dengan berpikir besar. Jangan meremehkan diri Anda. Hapuskan sikap mencela diri, konsentrasi pada aset Anda. Anda lebih baik dari yang dikira. Gunakan kosa kata pemikir besar. Gunakan perkataan yang menggembirakan, cerah dan besar. Ungkapkan kata-kata yang menjanjikan kemenangan, harapan, kebaha

Emosi: Kendalikan atau Kelola?

Emosi: Kendalikan atau Kelola?

Hei Emosi 

Apa yang Anda rasakan saat ini? Pada detik ini? Rileks dan rindu, begitu yang mendominasi perasaan saya saat menulis ini. Mungkin Anda sedang sedih/ senang, bersemangat atau down, tenang atau mungkin sedang marah, atau apa? Apakah emosi selalu membuntuti diri? Lantas, baiknya kita kendalikan atau kelola?

Mudahnya, seperti itu memaknai emosi diri. Rasa yang mendominasi jiwa suatu waktu, yang mudah berubah, datang dan pergi. Pengertian emosi menurut KKBI adalah luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Waktunya singkat, namun dampaknya bisa hebat! Tak jarang kita dengar kisah tragis seperti penganiayaan, perundungan, dan bahkan pembunuhan sebab luapan emosi yang sesaat ini. Maka, belajar memahami emosi itu sangat penting.

Emosi yang juga bisa diartikan sebagai keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis ini bisa muncul dan menyelimuti perasaan seseorang dalam rentang waktu yang singkat dan silih berganti. Satu saat bisa rasa gembira dan cinta yang mendominasi. Dilain waktu, mungkin merasa kecewa, rendah diri, patah semangat dan lain sebagainya. Segala rasa tersebut datang atas kendali kita atau tidak? Dan hal-hal lain dalam kehidupan ini hadir atas kendali kita atau tidak?

Emosi: Kendalikan atau Kelola?

Faktanya, banyak hal dalam kehidupan ini hadir bukan atas kendali kita. Begitu juga dengan emosi yang hadir dan meluapi hati, menyapa tanpa disangka dan datang tanpa diundang. Pasang surut laiknya dilaut. Emosi bisa tersulut, bisa juga diredam. Maka, terhadap emosi: kendalikan atau kelola?

Mengendalikan lebih mirip seperti mengatur kapan harus muncul atau kapan harus turun. Bila suatu hal datang diatur kapan harus ditekan bahkan ditendang. Mengatur debit atau intensitas luapan emosi. Seirama dengan arti kata kendali menurut KKBI: mengendalikan adalah mengekang, menahan. Sedangkan mengelola lebih tepatnya mengatur bagaimana harus merespon emosi yang hadir, paham bagaimana cara memperlakukan emosi.

Setuju ya, bila lebih bijak kita kelola emosi, bukan mengendalikannya?! Pada dasarnya tidak susah mengelola emosi, apabila kita rajin melatih diri dan hati. Ibarat menata hati, dilakukan terus menerus/kontinyu karena datang nya emosi ini ibarat arus sungai, senatiasa mengalir, kadang arus deras, kadang juga tenang menghanyutkan.

Baca juga:

Atomic Habit

Ego is Enemy 

5 Action Kelola Emosi:

1.Menyadari

Selama ini setiap laku diri, apakah dijalani dengan berkesadaran penuh/ mindfulness? Atau hanya sekadar menjalani kegiatan keseharian tanpa ada 'nyawa'nya? Tentu segala sesuatu yang terjadi, yang dirasa dan menyelimuti hati berimbas pada laku diri. Sadari emosi yang timbul dalam diri itu, akan berimbas pada laku diri. Kesadaran dini akan menstimulus otak untuk merespon emosi tersebut.

2. Mengenali

Menyadari ada emosi yang hadir di hati, ibarat tamu dalam lubuk sanubari. Selanjutnya perlu kita kenali 'tamu' tersebut. Apa yang kita rasakan dengan datangnya tamu tersebut? Apakah merasa tenang, hati merasa rileks? Atau dada terasa deg-degan, atau terasa panas sampai ke ubun-ubun? Atau malah terasa mudah lelah dan tersinggung?

3. Menamakan

Emosi yang telah kita kenali indikasinya atas diri, akan bisa kita beri nama. Apakah itu namanya si marah, si tenang, si kecewa, si gugup dan lain sebagainya. Rasanya, nama-nama tersebut familiar dalam keseharian, hanya saja kita tidak terbiasa melabelinya pada emosi yang sedang hadir dalam diri.

4. Menerima

Menerima segala rasa dan emosi yang hadir bukan hal yang gampang. Khususnya untuk emosi yang terindikasi negatif, seperti marah, kecewa, sedih, putus asa dan lain-lain. Saran selubung bahwa emosi negatif itu cenderung ditekan, ditolak, disangkal. Seyogyanya segala emosi diterima, jangan dulu disangkal, apa pun jenis emosi yang hadir. Dengan menerima, kita lebih siap merespon dan mengelola emosi dengan tepat.

5. Memberi ruang

Manusiawi jika emosi timbul naik turun, pasang surut. Hadir saat situasi hati dan kondisi fisik bervariasi. Terkadang pas siap dan fisik prima, emosi diterima dan dikelola dengan tepat. Lain kondisi mungkin tidak bisa tepat dan ideal. Maka, perlu kiranya memberi ruang bagi emosi untuk berdiam dalam ruang kalbu. Pun kita sebagai manusia yang 'terjangkiti' emosi, perlu juga ruang 'mencerna' segala yang datang agar bisa merespon dengan tepat.

Sejauh ini, sudah paham akan respon apa yang tepat atas emosi yang hadir? Kendalikan atau Kelola? Semoga dengan lebih paham, kita bisa lebih tepat merespon. Dampak jangka panjangnya kita bisa menjadi manusia yang lebih bijak dan tenang, walaupun tidak selamanya hidup berjalan dengan baik-baik saja. 


Referensi:

Aniq Al Faqiroh, 2022, Tips Mengelola Emosi Anak, https://www.youtube.com/live/QHkEEVIerZc?si=Jnxs9b9_RL7ny7JF

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer