Langsung ke konten utama

New Post

Spirit Fanny Ngeblogging

Dear Readers, Menambah pandangan dari kaca pengalaman orang lain, juga bisa menambah sudut pandang kita, lho. Setuju ya? Spirit Fanny Ngeblogging menjadi suntikan energi untukku juga dalam ngeblogging. Itu lah maksud dari task 4B Blogspedia Coaching #5. Berbinar hati ini bisa mengenal lebih dekat dengan Rahilla Fanny, partner bermainku di sesi 4B. Selama coaching ini, sebatas melihat 'text' dan 'sedikit suaranya'. Maka, kesempatan ini ku gunakan untuk menggali tentangnya lebih dalam.  Alasan Fanny Ngeblogging 1. Passionate di bidang literasi Perempuan asal Aceh ini suka menulis dan segala hal yang terkait literasi . So do I am! Fanny-begitu sapaanya-memilih blog sebagai ruang untuk latihan menulis. Karena blog itu mudah, juga murah. Harapannya kemampuan menulisnya akan meningkat bila sering dilatih di halaman blog. Menyambung juga dengan passionnya yang ingin berkarir di bidang literasi/kepenulisan. Sebelumnya juga pernah mengerjakan beberapa job terkait kepenulisan. Ma

Pesona Pacitan

Pesona Pacitan
Pesona Pacitan

Pesona Pacitan sungguh indah dari segala sudut. Suatu kota di ujung barat, sekaligus ujung selatan provinsi Jawa Timur. Kota kecil yang damai dan relatif sepi. Saat itu saya tiba di tengah kota sekitar pukul 18.30 petang. Tujuan pertama adalah Masjid Agung Kota Pacitan, untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib. Seperti tata kota pada umumnya, Masjid Agung Kota Pacitan terletak di sekitar alun-alun Kota Pacitan, tepatnya sebelah barat. Padahal malam itu adalah malam minggu, namun terpantau cukup lengang dan sepi jalanan dan suasana sekitar alun-alun. Baru terlihat sedikit lebih rame saat saya keluar dari Masjid Agung Kota Pacitan selepas shalat Isya. 

Alun-alun Kota Pacitan cukup besar dan luas. Tak terlihat pagar pembatas yang mengelilinginya, kesannya jadi terlihat lebih besar. Pedagang kaki lima berjejer di sisi selatan alun-alun hingga ke barat. Nampak juga area bermain anak yang terdiri dari perosotan, ayunan dan lain-lain. Sisi lain adalah sisi rumput dan lapangan olah raga. Terpantau ada beberapa sepeda listrik dan scooter yang berjejer, ditawarkan untuk disewa. Sayangnya waktu sudah malam, kami memilih untuk menikmati kuliner dan segera beristirahat di hotel.

Perjalanan ke Pacitan sungguh menantang. Dari arah timur, melewati kota Trenggalek-Ponorogo-Pacitan. Waktu tempuh kurang lebih 4 jam dari Tulungagung. Rute jalan berkelok, menanjak, melewati pegunungan, sementara di seberang bawah ada beberapa sungai. Untungnya jalan sudah beraspal mulus, sehingga kendaraan bisa dipacu cepat. Namun ada beberapa titik sedang pengerjaan perbaikan jalan karena tanah yang ambles atau longsor dari dataran tinggi. Menurut penduduk setempat, titik longsor lebih banyak lagi bila musim hujan. Arus kendaraan tidak ramai, jadi kendaraan bisa dipacu lebih cepat bila jalan sedang kosong. Terkadang bila beriringan dengan bus, jadi susah untuk mendahului, mengingat jalan berkelok-kelok sangat riskan bila menyalip. Badan jalan sepanjang perjalanan ke Pacitan cukup besar, muat 2 ruas dengan aman, bahkan bus besar juga bisa lewat. Selalu tertib berlalu lintas, patuhi rambu-rambu, pasang kecepatan yang wajar dan berhati-hatilah berkendara. Mengingat beratnya rute yang dilalui, tidak disarankan bagi sopir/pengendara yang baru/ newbie.

Sebenarnya ada rute lain bila masuk ke Pacitan dari arah timur, yakni melalui rute Jalur Lintas Selatan (JLS). Menurut testimoni warga, jalan tersebut lebih berkelok-kelok dan sempit. Namun, pemandangannya sungguh memukau, karena melewati banyak pantai dan laut lepas sepanjang rute tersebut. Dengan waktu tempuh kurang lebih sama. Haruslah master menyetir bila melalui medan berat seperti itu. Dan sebaiknya lakukan perjalanan di pagi/siang hari, jangan sampai nekat melewatinya di malam hari, resikonya sangat besar. Kamu sesuaikan saja dengan kemampuan/skill menyetir prefer melalui Ponorogo atau JLS. 

foto di depan lukisan pemandangan Pacitan


Pacitan adalah kota paling ujung di Jawa Timur. Terkenal dengan stigma 'terpencil' hingga dulu banyak orang enggan kerja dan ditempatkan di kota tersebut, karena lokasinya jauh, akses susah, sarana transportasi sedikit. Namun kini sudah banyak perkembangan dan kemajuan di kota ini. Terlebih, saat SBY menjabat sebagai presiden RI, banyak sekali proyek pembangunan sarana prasarana kota. Selain itu kota Pacitan juga dipercantik untuk menarik wisatawan. Tentu banyak perubahan dan kemajuan yang dirasa oleh warga Pacitan. Pun, saya sebagai pengunjung, merasakan akses jalan ke kota mulus dan bagus. Kotanya relatif sepi dan terasa damai. Tata kota teratur dan terawat. Tenang dan tentram rasanya.

Pilihan hotel memang tidak banyak, terutama yang berbintang tiga keatas. Kebanyakan hotel kecil, guest house dan red doorz. Saya pilih guest house syariah untuk keamanan dan kenyamanan. Guest house Anjani. tempat saya menginap, lokasinya strategis, di pusat kota. Persis di sebelah terminal kota Pacitan. Umumnya terminal bis rame dan bising ya?! Beda, terminal ini sepi dari kendaraan umum dan sunyi dari kebisingan loud speaker atau penjaja panganan. Hingga saya juga heran, terminal kok bisa sepi seperti kuburan:(

Itulah sejumlah kecil pesona Pacitan yang bisa saya ceritakan dari kunjungan perdana  akhir Mei 2024. Tentu kunjungan saya yang hanya 24 jam disana tak mampu melukiskan keindahannya yang begitu elok dan banyak. Tak cukup 24 jam untuk mendatangi semua spot wisata yang tersebar di penjuru Pacitan. Begitu banyak dan beragam yang sangat patut dikunjungi. Dari sungai, pantai, laut, goa, gunung dan lain-lain. Kota yang damai. Keindahan alam yang beragam, menawan dan mempesona. Sungguh pengalaman wisata yang tak terlupakan. Ingin sekali suatu saat bisa kembali dan menikmati. Besar harapan saya kota Pacitan mampu menjadi salah satu destinasi andalan Jawa Timur dan makin banyak wisatawan yang berkunjung. Demikian kotanya jadi lebih 'hidup', tingkat perekonomian warganya menigkat. Tentunya diimbangi dengan perbaikan sarana dan prasarana objek-objek wisata daerah. 



Komentar

Postingan Populer