Perempuan Negeri Di Atas Air Bicara Rasa : Rasa Penasaran Terhadap Perempuan Desa Kecamatan Danau Panggang Yang Berbuah Pelajaran
Sebuah pelajaran yang diserap dari para perempuan Negeri Di Atas Air, tentang bicara rasa dan asa.
Apa yang ada di benak seorang perempuan Jawa melihat rumah-rumah berjejer di tengah sungai seluas lautan?
Shock!
Heran, kok bisa ada pedesaan di tempat yang minus daratan!
Banyak pertanyaan di kepala
Perasaan yang perlu dikonfirmasikan
Penasaran yang butuh jawaban
Ini bukan tentang rasa-rasa dalam radar lara atau nestapa
Ini tentang rasa penasaran yang berbuah pelajaran
Geo-shock!
Mungkin Anda juga akan ternganga melihat sungai yang begitu besar di kanan kiri jalan yang Anda lalui. Terlebih jika kita sama, mulai lahir, tumbuh dan hidup di Pulau Jawa. Berapa sih lebar sungai di Jawa itu? Di hulu sungai pun, paling besar mungkin 200 meter-an saja. Rata-rata sungai di Jawa lebarnya 30-80 meter. Dan itupun jumlahnya tak banyak.
Melihat peta geografis posisi Pulau Kalimantan ada di atas Pulau Jawa. Nampak tak begitu jauh, ya? BaBayangannya tak beda jauh dengan Pulau Jawa. Kenyataanya, sangat berbeda, mengejutkan! Pernahkah Anda ke Kalimantan Selatan? Bentang lebar sungai-sungai di Kalsel jauh lebih masif dan raksasa dibandingkan dengan sungai di Jawa
Sungai di sana sangat banyak—bahkan Banjarmasin dijuluki "Kota Seribu Sungai". Contoh sungai ikonik di Kalimantan Selatan (Kalsel) yakni Sungai Barito. Sebagai sungai terbesar dan terpanjang di Kalsel, Sungai Barito memiliki lebar rata-rata berkisar antara 650 hingga 800 meter. Bahkan, di area muara yang berbentuk corong (dekat Laut Jawa), lebarnya bisa mencapai 1.000 meter hingga lebih! Jangan heran bila setiap harinya kapal tongkang besar hilir mudik di sungai Barito memuat batu bara dari beberapa kabupaten di Kalsel.
Negeri Di Atas Air
Related:
Kehidupan Perempuan Negeri Di Atas Air
Nyaman dalam Keterbatasan
Beberapa alasan mengapa mereka bisa merasa nyaman, antara lain:
- Sudah terbiasa sejak kecil. Banyak warga lahir dan besar di rumah panggung, sehingga hidup tanpa halaman tanah terasa normal bagi mereka. Rumah panggung menaungi hidup dengan sejuk tanpa alat pendingin ruangan. Beda dengan bangunan tembok atau beton.
- Dekat dengan sumber mata pencaharian. Kebanyakan mereka bergantung hidup pada hasil tangkapan ikan di sungai, atau budi daya ikan keramba, produksi ikan asin, berdagang dan lain-lain.
- Memiliki ikatan budaya. Bagi mereka, tinggal di tepi atau di atas sungai merupakan bagian dari identitas dan tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun.
- Dekat dengan alam. Hidup di sekitar air, berada di atas sungai, bagi mereka ketenangan dan kenyamanan yang istimewa.
Kenyamanan mereka lebih ditentukan oleh cara hidup dan budaya daripada keberadaan tanah atau halaman.
Perempuan Bicara Rasa
1. Rasa Penerimaan
Rasanya mungkin susah diterima oleh semua indera 'para perempuan darat' bila harus menjalani aktivitas domestik seperti mandi, mencuci, kakus dan memasak dengan air sungai. Kulit, hidung, mata dan perut rasanya tak tahan menerima air sungai yang jauh dari bersih dan jernih. Bahkan bayi-bayi mereka yang butuh sanitasi tinggi bisa sangat adaptif dengan lingkungan air tempat mereka lahir! Mereka juga manusia, sama dengan kita semua. Lingkungannya saja yang berbeda.
Bicara rasa bagi 'para perempuan air' tidak selalu lewat keluhan, melainkan lewat adaptasi dan ketangguhan sehari-hari. Keseharian mereka yang tak lepas dari air sungai, rumah lanting dan sampan dijalani dengan penuh penerimaan. Apa yang kita anggap sebagai keterbatasan atau "minus privilege daratan", bagi mereka adalah ruang hidup yang normal dan fungsional. Bukan soal tempat bertumbuh sekaligus ladang pemenuhan hidup.
Determinisme Lingkungan:Paham yang meyakini bahwa alam dan lingkungan fisik secara mutlak mengontrol serta membentuk karakter, kebiasaan, dan corak budaya manusia.
Yang tak bisa mereka terima adalah jika manusia terus mencemari sungai, menangkap ikan dengan cara yang destruktif habitat ikan, penebangan hutan dan aktivitas pertambangan yang merusak daerah aliran sungai. Poin-poin yang kita semua setuju untuk dicegah dan ditanggulangi, bukan?
2. Rasa Kekhawatiran
Kecemasan bisa dikelola melalui pengetahuan, pengalaman dan kebiasaan.
3. Rasa Kesepian
Asa yang Memperkaya Rasa
- Jembatan yang kuat dan memadai jumlahnya di titik-titik strategis.
- Dermaga dan jalur transportasi sungai yang aman.
- Akses jalan darat yang memadai yang mendukung jalan sungai.
- Listrik dan internet yang lebih stabil.
- Puskesmas terjangkau dengan tenaga kesehatan yang cukup dan ahli.
- Ambulans sungai atau layanan kesehatan keliling.
- Ketersediaan obat-obatan terjangkau dan layanan darurat.
- Sekolah yang mudah diakses.
- Bangunan fisik sekolah yang baik, kuat dan nyaman untuk belajar
- Fasilitas belajar dan akses internet untuk pendidikan tersedia dengan baik.
- Tenaga pengajar/guru yang kompeten dan memadai.
- Penanganan pencemaran air.
- Pengawasan terhadap penebangan hutan dan aktivitas pertambangan yang merusak daerah aliran sungai.
- Pemulihan habitat ikan agar mata pencaharian tetap terjaga.
- Keistimewaan desa di tengah sungai/danau bisa dipromosikan menjadi destinasi wisata oleh pemerintah. Demikian, aktivitas ekonomi para perempuan air semakin giat dan meningkat, seperti berdagang, membuat kerajinan dari tanaman dan lain sebagainya
- Kemudahan menjual hasil tangkapan atau hasil budi daya dengan harga yang adil.
- Pelestarian budaya sungai, rumah lanting, dan tradisi masyarakat.
- Pembangunan yang selaras dengan kearifan lokal.
- Perlindungan dari ancaman banjir.
- Sistem peringatan dini untuk banjir atau kebakaran.
- Bantuan yang cepat ketika terjadi bencana.
- Di beberapa wilayah, masyarakat berharap memperoleh kepastian hukum mengenai lahan atau perkampungan mereka sehingga tidak khawatir digusur atau kehilangan hak tinggal.
'Para perempuan air' umumnya tidak meminta kemewahan, melainkan kesempatan untuk hidup layak dan lebih baik tanpa harus meninggalkan identitas sebagai masyarakat sungai.
Rasa Empati yang Didukung Aksi
Perempuan Negeri Di Atas Air mungkin tidak cemburu dengan privilege perempuan darat, namun seyogyanya kita beri dukungan dan kepedulian kita pada ketangguhan mereka. Sebagai sesama perempuan, kita tunjukkan empati dengan 'memperlihatkan pada dunia' bahwa ada banyak perempuan tangguh disana yang hidup berdamai sekaligus berjuang di Negeri Di Atas Air! Perjuangan yang tak kalah berat dan hebatnya dengan para perempuan yang berdesakan di kereta commuter line atau yang berpanas-panasan di aspal jalan kemacetan kota besar.
Apabila kita perempuan yang punya pengaruh dan bahkan punya kuasa, upayakanlah suatu kebijakan dan aksi untuk perbaikan, kemajuan dan kesejahteraan pada lingkungan dan daerah tempat tinggal mereka! Promosikan keunikan dan keindahan ekosistem lingkungan sungai disana yang jarang dijumpai di daerah lainnya. Bisa menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Kalsel tentu sangat mendukung kemajuan pedesaan di atas sungai. Potensinya cukup besar, selain keunikan geografis, di tengah danau terdapat pulau eksotis, dan peternakan Kerbau Rawa yang langka dijumpai di daerah lainnya!
Tulisan ini hasil riset penulis saat tinggal sementara di Kabupaten HSU dalam kurun waktu 1 Mei-3 Juli 2026, mengamati kehidupan pedesaan terapung di atas Danau Panggang. Rangkuman hasil wawancara/ngobrol bareng dengan perempuan setempat. Dilengkapi dengan studi literatur yang mendukung. Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Perempuan Bicara Rasa” sebagai bagian dari Rangkaian Milad Ipedia ke-6 tahun 2026″. Sebagai penjabaran atas rasa penasaran yang berbuah pelajaran, pada diri penulis, dan semoga juga berdampak bagi pembacanya.









Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat, setidaknya membuat readers tersenyum :)
Ditunggu feedbacknya di kolom komentar tapi jangan tinggalkan link hidup yaa!